Socio-technopreneurship, Resolusi Tahun Baru
--
Digitalisasi dipahami secara sempit sebagai kehadiran di platform daring, penggunaan aplikasi, atau pemasaran melalui media sosial. Tanpa pendampingan dan orientasi yang tepat, digitalisasi semacam ini justru menciptakan ketergantungan baru dan memperlemah posisi tawar pelaku usaha kecil.
Socio-technopreneurship menawarkan pendekatan yang lebih kontekstual dan penguatan pada aspek kemanusiaan. Teknologi tidak dipaksakan sebagai simbol modernitas, tetapi digunakan sesuai dengan kebutuhan sosial dan kapasitas lokal.
Dalam pendekatan ini, pertanyaan utama bukan sudah digital atau belum? melainkan apakah teknologi ini meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian pelaku usaha?
Platform digital dapat dimanfaatkan untuk memperpendek rantai distribusi hasil seperti pada sektor pertanian, meningkatkan transparansi harga, membuka akses pembiayaan, dan memperluas pasar bagi produk lokal.
Teknologi keuangan dapat membantu kelompok yang selama ini tidak terlayani oleh sistem perbankan formal. Dengan orientasi sosial yang mengedepankan kebermanfaatan, teknologi menjadi instrumen dalam perwujudan demokratisasi ekonomi.
UMKM memiliki keunggulan yang sering kali diabaikan dalam diskursus ekonomi digital, yaitu kedekatan dengan komunitas. Relasi sosial, kepercayaan lokal, dan pemahaman konteks adalah modal yang tidak dimiliki oleh banyak perusahaan besar. Socio-technopreneurship justru menjadikan modal sosial ini sebagai fondasi utama.
Ketika UMKM mengintegrasikan teknologi dengan misi sosial—misalnya memberdayakan kelompok rentan, mengolah limbah menjadi produk bernilai ekonomi, atau menciptakan lapangan kerja yang inklusif—mereka tidak hanya menciptakan nilai ekonomi, tetapi juga memperkuat ketahanan sosial. Dalam jangka panjang, pendekatan ini membangun keunggulan kompetitif yang lebih berkelanjutan dibanding sekadar efisiensi biaya.
Dari perspektif ekonomi modern, socio-technopreneurship memiliki nilai strategis yang signifikan. Dunia usaha kini bergerak menuju paradigma keberlanjutan dan tanggung jawab sosial. Konsumen semakin sadar akan dampak pilihan konsumsi. Investor mulai mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola dalam pengambilan keputusan bisnis.
Dalam konteks ini, usaha yang mampu mengintegrasikan misi sosial ke dalam model bisnisnya memiliki keunggulan reputasional dan ketahanan jangka panjang. Reputasi bukan lagi sekadar citra, tetapi aset strategis yang menentukan keberlangsungan usaha.
Namun, penting untuk diakui bahwa socio-technopreneurship bukan tanpa tantangan. Literasi digital dan manajerial yang belum merata, keterbatasan akses pembiayaan, serta kesulitan dalam mengukur dampak sosial menjadi potensi hambatan yang nyata. Model bisnis berbasis dampak sering kali membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai profitabilitas sementara sistem pembiayaan konvensional cenderung berorientasi jangka pendek. Tanpa dukungan ekosistem yang memadai, niat baik dapat berujung pada kegagalan usaha.
Di sinilah peran negara menjadi krusial. Negara tidak cukup hanya menjadi regulator yang menetapkan aturan, tetapi perlu berperan sebagai enabler yang menciptakan ekosistem kondusif bagi berkembangnya socio-technopreneurship.
Kebijakan fiskal, regulasi digital, program pengembangan UMKM, dan skema pembiayaan inovatif perlu dirancang dengan orientasi dampak sosial. Negara juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa transformasi digital tidak meninggalkan kelompok rentan dan tidak memperlebar kesenjangan.
Dunia akademik pun memegang tanggung jawab intelektual yang besar. Perguruan tinggi, khususnya di bidang ekonomi dan bisnis, tidak lagi cukup mengajarkan manajemen dan keuangan. Sekolah-sekolah bisnis perlu membentuk cara pandang yang lebih kritis dan reflektif tentang makna keberhasilan bisnis dan pembangunan berdampak.
Socio-technopreneurship dapat menjadi jembatan antara teori dan praktik, antara kampus dan masyarakat. Riset tidak berhenti pada publikasi, tetapi diterjemahkan menjadi inovasi sosial yang berdampak nyata. Berapa banyak hasil riset yang terpublikasi mampu mendorong perubahan sosial dan masyarakat adalah pertanyaan besar yang harus segera dijawab.
Mengingat peran strategis dan dampak besar, socio-technopreneurship dapat dipahami sebagai proyek peradaban. socio-technopreneurship menantang asumsi lama bahwa kemajuan ekonomi harus selalu dibayar dengan ketimpangan sosial dan kerusakan lingkungan.
Sumber:

