DPRD Kota Makassar
PEMKOT MAKASSAR

Krisis Kehendak di Era Semiotika Otonom: Melihat Masa Depan di Jari Anak 6 Tahun

Krisis Kehendak di Era Semiotika Otonom: Melihat Masa Depan di Jari Anak 6 Tahun

Faisal Hamdan, Jurnalis dan peneliti independen--Dokumentasi pribadi

Kalimat ini terdengar menyimpan persoalan mendasar. Ia menunjukkan bahwa pilihan anak bergerak di dalam ruang yang telah dipersempit sebelumnya. Anak itu memilih, tetapi dari apa yang sudah dipilihkan.

Anak-anak ini tidak pernah berkata, “Saya ingin ini.”

Mereka berkata, “Saya lihat ini.”

Dalam kerangka semiotika klasik, tanda menunggu penafsir. Makna lahir ketika manusia berhadapan dengan simbol, lalu menafsirkannya secara sadar. Bahkan dalam pendekatan post-semiotik, relasi manusia dengan tanda masih dipahami sebagai relasi tontonan, representasi, dan simulasi.

Namun apa yang terjadi pada anak-anak ini melampaui dua kerangka tersebut.

Anak-anak ini belum menjadi penafsir, mereka belum memiliki kehendak reflektif, belum memiliki jarak kritis, bahkan belum sepenuhnya menguasai bahasa. Tetapi tanda sudah bekerja dengan sangat efektif, ia membentuk kesukaan, kebiasaan, gerakan tubuh, bahkan selera makanan.

Di sinilah Semiotika Otonom menemukan pijakan paling nyatanya.

Semiotika Otonom tidak berbicara tentang manusia yang keliru membaca tanda, ia berbicara tentang tanda yang tidak lagi menunggu manusia. Tanda bergerak lebih dulu, bekerja lebih awal, dan membentuk kemungkinan sebelum subjek sadar bahwa ia sedang memilih.

Pada anak-anak, proses ini terlihat paling telanjang. Tidak ada negosiasi makna, tidak ada dialog, tidak ada pertimbangan. Yang ada hanyalah paparan yang berulang, dan dalam dunia tanda, pengulangan selalu lebih kuat daripada argumen.

Seorang anak berusia delapan tahun mengatakan bahwa ia mengenal makanan tertentu karena sering melihatnya di YouTube. Ia menyebut merek, meniru joget, dan memahami gaya tubuh tertentu, bukan dari orang tua atau lingkungan fisiknya, melainkan dari layar.

YouTube, dalam konteks ini, bukan sekadar media hiburan. Ia adalah lingkungan tanda, ia bukan jendela, melainkan ruang hidup. Anak-anak tidak sedang mengaksesnya, mereka tumbuh di dalamnya.

Pilihan mereka bukan hasil pencarian, melainkan hasil keterbiasaan.

Inilah pergeseran paling mendasar yang sering kita anggap sepele, kita masih membicarakan kebebasan seolah-olah kehendak selalu hadir lebih dulu. Padahal, pada generasi ini, kehendak justru lahir setelah pilihan diperkenalkan.

Anak-anak merasa memilih, tetapi tidak pernah tahu dari mana pilihan itu datang. Dan aku rasa, mereka memang tidak perlu tahu, karena sistem tidak meminta persetujuan, ia hanya menyediakan kemungkinan, lalu mengulanginya sampai terasa alami.

Semiotika Otonom tidak lahir dari ruang teori yang jauh, dari buku-buku berat, atau konferensi teknologi. Ia lahir dari ruang keluarga, dari anak-anak yang belum bisa membaca, tetapi sudah bisa memilih, dari layar kecil yang bekerja diam-diam, tanpa instruksi, tanpa paksaan.

Sumber: observasi perilaku digital pada anak usia dini