Rapuhnya Benteng Sosial "Anak" Negeri
Andi Muhammad Jufri Praktisi Pembangunan Sosial--
Selama 3 tahun terakhir, ada 114 anak bunuh diri. Ada 46 anak bunuh diri pada tahun 2023, 42 anak bunuh diri pada tahun 2024 dan ada 25 anak bunuh diri pada tahun 2025. (Catatan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), KumparanNews, 30/10/2025). Jalan bunuh diri menjadi pilihan anak kita, sebagai solusi penyelesaian masalah. Padahal, semua agama dan kearifan lokal negeri ini, tidak ada yang menjadikan bunuh diri sebagai solusi. Bahkan, peristiwa bunuh diri dianggap tabu dan kezaliman (jalan bodoh/jalan gelap) bagi pelakunya.
Mungkin, stigma "kezaliman" (jalan bodoh/jalan gelap) itu berlaku bagi orang dewasa. Tapi, bagi anak, yang belum berpikir matang, bisa saja imajinasi mereka, itu adalah "jalan terang" dan solusi tanpa memberatkan siapapun. Lihat isi hati mereka yang terungkap melalui pesan di surat yang ditinggalkan YBS & Ajeng. Kita perlu memahami betul, mengapa anak-anak kita akhir-akhir ini, ada kecenderungan mengambil "bunuh diri" sebagai "jalan terang" baginya ?
Jangankan anak, kita menyaksikan hari ini, kasus bunuh diri juga terjadi kepada orang dewasa. Pada tahun 2023, ada 1226 orang Indonesia bunuh diri (data Polri, 2023). Bila dirata-rata, setidaknya 3 orang melakukan aksi bunuh diri setiap hari (Youtube, Harian Kompas, 18/04/2024).
Lebih memperihatinkan lagi, bunuh diri dikalangan anak muda semakin marak. Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) melaporkan periode Januari–Agustus 2024 setidaknya polisi menangani 849 kejadian bunuh diri. Ini artinya, satu hari terdapat hampir 4 empat kejadian bunuh diri.Dari data tersebut sebagian besar korban bunuh diri berusia 26-45 tahun (30,9%). Sementara bunuh diri yang dilakukan usia 17-25 tahun ditemukan sebanyak 75 kasus atau setara 8,8% (bbc.com, 10/10/2024).
Bila kita melihat, penyebab bunuh diri bagi anak muda dan orang dewasa lebih kompleks dibandingkan dengan anak-anak. Walaupun pertanyaan kritis kita perlu lontarkan, mengapa orang anak muda dan orang dewasa yang telah mengikuti berbagai proses pendidikan dapat juga berbuat "kezaliman" (jalan bodoh) mengakhiri hidupnya sendiri ?
Bukankah pelajaran "moral" yang bersumber dari agama, kearifan dan budaya negeri ini telah mereka pelajari ? Bukankah ketrampilan hidup (life skills), penyelesaian masalah (problem solving), berpikir kritis (critical thinking) dan pengaturan emosi (emotional regulation) telah mereka miliki ?
Entah apa yang terjadi dengan orang muda dan dewasa, kita berharap kematangan dan pengalaman hidup mereka dapat mencegah peristiwa bunuh diri di kalangan muda dan dewasa.
Bagaimana dengan anak-anak kita ?
Mereka sedang tumbuh dan belajar tentang kehidupan. Masa anak-anak adalah masa kegembiraan. Sekaligus masa mengukir kasih sayang di hati mereka. Bila keluarga, teman sekolah, teman main, dan masyarakat, memberikan ruang yang menyenangkan dan menggembirakan, tentu mereka akan tumbuh dengan kegembiraan. Namun, bila lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat, menciptakan kemarahan, kekerasan, ketidakpedulian, dan meninggalkan mereka, maka mereka akan tertimpa kesedihan, kekecewaan, kegundahan dan keputusasaan. Menurut Reza Indragiri Amriel (ahli psikologi forensik) bahwa pada tahap eskalasi kesedihan, kekecewaan, kegundahan dan keputusasaan mencapai puncaknya (kronis), bunuh diri menjadi pilihan mereka. Seringkali, pilihan untuk bunuh diri itu, sekonyong -konyong datang.
Bila lingkungan yang ramah, penuh kegembiraan dan kehangatan, tercipta, di salah satu lingkungan (apakah sekolah, keluarga atau masyarakat), maka lingkungan salah satunya dapat menjadi penyangga bagi anak-anak kita sehingga kegundahan dan kekecewaan atas penerimaan di salah satu lingkungan di atas, dapat terobati.
Bila keluarga, kerabat, tetangga, teman sebaya, teman sekolah, guru, teman sekampung, pengurus rukun tetangga atau rukun warga, tokoh agama dan organisasi keagamaan, tokoh masyarakat dan organisasi kemasyarakatan, dan kepala desa dan masyarakat desa, dan masyarakat secara umum, dapat mendeteksi, memetakan, mengidentifikasi, dan mendata mereka yang rentan dan rawan secara sosial dan ekonomi. Kemudian setelah terdeteksi, terpetakan, teridentifikasi, dan terdata, maka dengan empati, kepedulian sosial dan gotong royong membantu mereka yang rawan itu dapat dilakukan, maka peristiwa eskalasi menuju puncak kesedihan yang dialami anak-anak kita, seperti YBS dan Ajeng bisa kita cegah.
Peristiwa anak bunuh diri seperti fenomena gunung es. Berkembangnya media sosial memudahkan anak meniru sikap, prilaku dan tindakan bunuh diri yang sering viral atau beredar ramai. Peniruan prilaku (efek copycat) bunuh diri dianggap bagi anak sebagai jalan solusi masalah Literasi digital menjadi sangat penting bagi anak dan tentu saja sosialisasi kearifan terkait benar atau salah perlu terus dilakukan.
Namun, masalah menjadi membesar karena terjadinya perubahan sosial yang cepat (anomie suicide) di sekitar kita. Benteng sosial pada keluarga inti, sering rapuh dan hancur akibat konflik keluarga yang mengakibatkan anak kehilangan tujuan dan arah hidup.
Pada saat tertentu, anak menjadi rapuh dan stress karena tekanan dan prilaku sosial yang merusak mental anak seperti kekerasan, perundungan (bullying), dan pelecehan seksual. Tekanan sosial juga dapat datang dari kunkungan aturan sosial yang kaku baik di lingkungan rumah, sekolah atau masyarakat. Ketidakberdayaan dan keputusasaan akan datang, karena tekanan lingkungan sosial (fataliatic suciede).
Pada kondisi ketidakberdayaan dan keputusasaan, peran jerami (jejaring) sosial sebagai "support social" menjadi sangat penting. Keluarga terdekat (kerabat), tetangga, sahabat dan masyarakat setempat tinggal/sedomisili (sekampung) menjadi sandaran yang dapat menguatkan. Jerami (jejaring) sosial tidak boleh pasif (diam), tapi perlu pro aktif. Bila jerami (jejaring) sosial kering (pasif/diam), anak-anak kita akan semakin terasing karena tidak memiliki tempat berbagi keluh kesah.
Kondisi jerami kering adalah indikator lemahnya kepedulian dan kepekaan sosial negeri kita. Sekaligus ini menunjukkan begitu rapuhnya integrasi sosial (egoistic suicide) telah berakibat runtuhnya benteng sosial bagi kehidupan anak negeri. Kita telah gagal menyediakan dukungan "jerami sosial" yang pro aktif dan responsif kepada anak-anak kita.
Sumber:

