DPRD Kota Makassar
PEMKOT MAKASSAR

Rapuhnya Benteng Sosial "Anak" Negeri

Rapuhnya Benteng Sosial

Andi Muhammad Jufri Praktisi Pembangunan Sosial--

Oleh: Andi Muhammad Jufri, Praktisi Pembangunan Sosial

Peristiwa bunuh diri YBS (10 tahun), siswa sekolah dasar kelas IV Kabupaten Ngada NTT, memprihatinkan kita semua. YBS ditemukan menggantung diri di dahan pohon cengkeh yang tidak jauh dari rumah neneknya (80 tahun), tempat selama ini tinggal. 

Kematian anak itu menjadi jalan pilihan baginya, setelah permintaan beli buku dan pena seharga Rp. 10.000 kepada ibunya MGT (47 tahun) tidak dipenuhi karena ibunya sedang tidak punya uang. Ibunya selama ini bekerja serabutan dan buruh tani, berstatus janda dan menghidupi lima anak. 

YBS menulis sepucuk surat yang ditulis tangan untuk ibunya. Surat tersebut  ditemukan di sekitar lokasi kejadian. Bunyi surat YBS  dalam bahasa Ngada, sebagai berikut : 

KERTAS TII MAMA RETI

MAMA GALO ZEEMAMA MOLO JA’OGALO MATA MAE RITA EE MAMA

MAMA JAO GALO MATAMAE WOE RITA NE’E GAE NGAO EEMOLO MAMA

yang artinya :

SURAT BUAT MAMA RETI

MAMA SAYA PERGI DULU MAMA RELAKAN SAYA PERGI (MENINGGAL) JANGAN MENANGIS YA MAMA

MAMA SAYA PERGI (MENINGGAL) TIDAK PERLU MAMA MENANGIS DAN MENCARI ATAU MERINDUKAN SAYA

SELAMAT TINGGAL MAMA

Membaca isi surat YBS, membuat kita semua dapat merasakan kesedihan, kekecewaan, keputusasaan, dan jalan buntu yang dihadapinya. Gambar emoji menangis di akhir tulisan tangan kertas yang ditemukan, memberikan pesan betapa lara, gunda dan sedih dialami anak kita,  YBS. Kemudian mendorongnya mengambil jalan yang mengakhiri segala lara, gundah dan sedihnya. 

Kasus Ajeng (14 tahun), siswi MTs Negeri (setara SMP) di Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi, juga ditemukan tewas dalam kondisi leher tergantung menggunakan sarung, di rumahnya, pada Selasa (28/10/2025). Ajeng juga menulis surat, berbahasa Sunda, di buku tulis yang ditemukan.  Ajeng menuliskan bahwa ia meminta maaf kepada ibu dan bapaknya, kemudian ke guru-gurunya, dan keempat temannya yang tidak pernah menyakitinya.  Ajeng menyinggung soal teman-temannya yang membuatnya bunuh diri. Ajeng menyatakan bahwa ia sudah berusaha memaafkan, tapi teman-temannya sering bikin sakit hati, entah dari perkataan atau perilaku.“Seperti kejadian tadi, bilang ‘Mati saja kamu’,” demikian tercantum dalam surat wasiat berbahasa Sunda itu (KumparanNews, 30/10/2025). 

Kedua kasus di atas memiliki latar berbeda. YBS mengakhiri hidup dengan latar kondisi ekonomi. Sementara, Ajeng mengakhiri hidupnya karena perundungan yang tak kunjung berhenti oleh teman-temannya. 

Sumber: