DPRD Kota Makassar
PEMKOT MAKASSAR

Ketika Tuduhan Mendahului Bukti

Ketika Tuduhan Mendahului Bukti

Muh. Akbar Fhad Syahril, Akademisi Institut Ilmu Sosial dan Bisnis Andi Sapada --

Ruang digital memperbesar risiko tersebut. Sekali tuduhandipublikasikan, ia dapat disalin, diberi judul baru, dipotong darikonteksnya, dan disebarkan kepada publik yang tidak lagimengetahui asal-muasalnya. Dalam keadaan demikian, tanggungjawab pelapor, penuduh, maupun penyebar menjadi lebih besar. Pengulangan tidak menambah keaslian data. Viralitas tidakmenggantikan pemeriksaan. Banyaknya unggahan tidakotomatis mengubah dugaan menjadi bukti.

Tulisan ini tidak meminta siapa pun untuk menyukai seseorang, memaafkan kebijakan yang dianggap keliru, atau menghentikankritik terhadap kekuasaan. Masyarakat tetap berhak bertanya, meragukan, mengawasi, melapor, dan meminta pemeriksaanyang sungguh-sungguh. Namun, hak-hak tersebut memperolehmaknanya ketika dijalankan dengan disiplin terhadap bukti.

Kecurigaan dapat menjadi alasan untuk memulai pemeriksaan, tetapi tidak dapat menggantikan pemeriksaan itu sendiri. Gambar dapat membuka pertanyaan, tetapi tidak dapatmenggantikan pembuktian. Viralitas dapat memperluasperhatian publik, tetapi tidak menjadikan suatu tuduhan otomatisbenar. Negara hukum tidak mengukur keadilan dari seberapabesar seseorang disukai atau dibenci. Ukurannya terletak pada prinsip yang sederhana, siapa yang mendalilkan, dialah yang harus membuktikan. Sebelum bukti diuji secara patut, penghukuman baik di pengadilan maupun di ruang publik tidaksemestinya didahulukan.

Sumber:

Berita Terkait