Appi di Persimpangan Politik: Bertahan atau Berlabuh?
Arief Wicaksono.--
Pada akhirnya, kekuatan Appi tidak semata-mata terletak pada partai yang menaunginya. Justru, kapital personal yang dimilikinya menjadi salah satu alasan mengapa sejumlah partai berupaya mendekatinya. Sebagai figur dengan rekam jejak elektoral dan posisi strategis di pemerintahan daerah, Appi memiliki peluang untuk menentukan arah politiknya berdasarkan kalkulasi yang lebih mandiri.
Jika memilih bertahan di Golkar, ia tentu harus memperhitungkan dinamika internal dan prospek politik partai tersebut. Sebaliknya, jika memutuskan pindah, ia perlu memastikan bahwa partai tujuan memiliki fondasi elektoral dan organisasi yang cukup kuat, sekaligus memberikan keleluasaan bagi dirinya untuk mengembangkan kekuatan politik.
Dengan demikian, pilihan Appi semestinya tidak berhenti pada pertanyaan tentang partai mana yang paling menguntungkan untuk saat ini. Lebih jauh, ia harus memastikan bahwa keputusan tersebut tidak menjadikan dirinya sekadar instrumen penyelamat elektoral bagi partai yang sedang membutuhkan tambahan kekuatan.
Sebab, dalam politik, kapital personal adalah aset yang dapat dikonversi menjadi kekuasaan. Namun, aset itu juga bisa terkuras jika tidak dikelola dengan kalkulasi yang tepat.
Pada titik inilah Appi perlu menentukan arah. Apakah daya tawar politik yang dimilikinya akan dikonversi menjadi kekuatan politik yang semakin besar, atau justru habis digunakan untuk menambal kelemahan struktural partai yang kelak dipilihnya?
Keputusan itu sepenuhnya berada di tangan Appi. Sebab, dalam pertarungan politik yang semakin bertumpu pada kekuatan figur, bukan hanya partai yang memilih tokoh. Ada kalanya, tokoh justru memiliki kekuatan untuk menentukan partai mana yang layak menjadi kendaraan politiknya.
Sumber:

