DPRD Kota Makassar
PEMKOT MAKASSAR

Kudeta Digital di Ruang Publik

Kudeta Digital di Ruang Publik

Faisal Hamdan, Jurnalis dan Peneliti Independen--Dokumentasi Pribadi

Oleh: Faisal Hamdan, Journalist/Independent Researcher

Sore itu di depan kantor, saya duduk menghadap ke jalan raya. Lalu lalang kendaraan terdengar bising, suara klakson nyaris berbunyi tiap menit. Di seberang jalan, puluhan anak-anak berbaur dengan orang dewasa sambil bermain layangan, saya menatap mereka sambil mengingat masa kecilku, saat bermain layangan di pinggir kanal. Namun ingatan itu kerap terpotong oleh pemandangan kendaraan yang padat dan bergerak tersendat sejak sejam yang lalu.

Perhatian saya kemudian tertuju pada para pengendara motor yang melintas tanpa henti. Baru saya sadari, ada puluhan bahkan ratusan pengendara yang memasang holder ponsel di kendaraannya. Bukan benda itu yang mengejutkan, melainkan cara tangan mereka bekerja, jari-jari sibuk menyentuh layar sambil motor terus melaju, mengikuti petunjuk Google Maps untuk mengantar makanan atau penumpang.

Antara Angin dan Algoritma

Jalan raya hari ini tampaknya telah berubah menjadi ruang kerja digital yang padat. Ponsel bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan bagian dari sistem navigasi dan ekonomi yang menempel di tubuh pengendara. Ada tuntutan kecepatan dan ketepatan yang membuat layar harus terus dipantau, bahkan di tengah kebisingan, kemacetan, dan risiko di jalan. Kondisi ini membentuk pola perilaku baru, kita tidak lagi sekadar melihat jalan, tetapi membaca data yang melayang di atas jalan itu sendiri.

Sama seperti anak-anak yang mengikuti arah angin agar layangannya tetap terbang, para pengendara ini mengikuti garis biru di layar agar pekerjaannya selesai. Bedanya terletak pada apa yang mereka patuhi, yang satu menyesuaikan diri dengan alam, yang lain menyesuaikan diri dengan algoritma. Kita semakin bergantung pada panduan digital untuk melakukan hal-hal yang dahulu dijalani dengan ingatan, kebiasaan, dan orientasi visual. Perhatian pun terbelah antara aspal yang nyata dan layar yang terus memberi instruksi.

Kumpul Tanpa Jumpa

Fenomena ini tidak berhenti di aspal jalanan. Malamnya, saat tiba di rumah, saya mengajak istri keluar makan malam dan berakhir di sebuah kafe di Jalan Perintis, dekat perempatan Jalan Prof. Basalamah. Tempat itu sesak oleh ratusan remaja yang menghabiskan waktu hingga subuh. Saya duduk di teras samping, membuka laptop untuk memperbaiki naskah buku, namun sesekali melirik ke arah istri yang sedang asyik menggulir layar ponsel di depannya.

Ketika koneksi WiFi melambat karena padatnya pengunjung, saya menutup laptop dan mulai memperhatikan aktivitas di sekitar. Sekilas tampak beragam, ada yang tertawa, menonton sepak bola, hingga bermain kartu. Namun semakin lama saya mengamati, semakin terasa bahwa kehadiran fisik di sana hanyalah pelengkap. Tepat di hadapan saya, sepasang pria dan wanita hampir tidak saling berbicara sejak tiba selain saat memesan minuman. Mereka sibuk menggulir video di media sosial masing-masing selama setengah jam tanpa suara.

Di sisi kanan dan kiri, pemandangan serupa terjadi. Kelompok pria duduk di satu meja namun tidak saling bicara karena fokus pada layar ponsel masing-masing. Bahkan saat saya berjalan menuju kasir, saya melihat kerumunan wanita sibuk mendokumentasikan pesanan demi konten, dan dua lainnya sibuk meniru joget TikTok dengan penuh konsentrasi. Mereka yang bermain kartu pun perhatiannya tetap terbagi, sesekali melirik layar untuk memeriksa game yang sedang berjalan sebelum kembali ke permainan kartu di meja.

Keputusan yang Diarahkan

Apa yang saya lihat dari jalan raya hingga ke meja kafe bukan sekadar perubahan kebiasaan, melainkan perubahan cara kebebasan bekerja. Di jalan, tubuh bergerak tetapi keputusan diarahkan oleh sistem navigasi. Di kafe, raga berkumpul tetapi pikiran mengembara mengikuti arus informasi dan algoritma. Keputusan untuk belok di persimpangan atau keputusan untuk tidak berbicara dengan kawan di depan mata bukan sepenuhnya keinginan manusia, melainkan karena begitulah cara sistem digital hari ini memastikan dirinya tetap menguasai perhatian kita.

 

Teknologi telah menciptakan ruang hidup yang otonom di tengah keramaian. Kita berada di satu meja atau satu jalan yang sama, namun tidak sungguh-sungguh saling menyapa atau mengenali lingkungan sekitar. Interaksi manusiawi perlahan tergeser oleh aliran konten yang bergerak tanpa henti, ruang publik yang semestinya menjadi tempat berbagi cerita kini lebih sering menjadi tempat singgah tubuh, sementara pikiran sepenuhnya dikendalikan oleh instruksi digital karena pada akhirnya, layar telah mengkudeta kehadiran manusia.

Sumber: observasi penulis