Ia mengatakan, kesesuaian tersebut membuka peluang bagi CIDES dan Pemerintah Kota Makassar untuk menerjemahkan komunikasi yang telah dibangun ke dalam kegiatan yang lebih konkret.
“Saya kira akan kita realisasikan dalam bentuk kegiatan-kegiatan yang konkret, tentu disambungkan dengan OPD-OPD yang terkait dengan riset, inovasi, serta pengembangan,” ujarnya.
Luhur menilai pembangunan daerah tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan teknokratik dan kepakaran. Menurutnya, setiap program juga membutuhkan persiapan sosial agar dapat diterima dan dijalankan secara efektif oleh masyarakat.
“Pendekatan teknokratik, pendekatan kepakaran memang diperlukan. Tetapi sekali lagi tetap ada kebutuhan persiapan-persiapan sosial, istilahnya desain sosial untuk setiap program,” jelasnya.
Dekan FISIPOL Unismuh Makassar itu mengatakan, CIDES dan ICMI memiliki sumber daya manusia dengan latar belakang beragam. Selain akademisi, terdapat aktivis, jurnalis, penggiat organisasi kemasyarakatan, dan berbagai elemen masyarakat lainnya.
Keragaman tersebut dinilai dapat memperkaya perspektif dalam melihat persoalan pembangunan, sehingga kebijakan tidak hanya disusun dari sisi akademik dan teknokrasi, tetapi juga mempertimbangkan kondisi sosial masyarakat.
“Dengan sumber daya yang majemuk seperti itu, kita bisa menjadi kekuatan yang mendorong dan melengkapi pendekatan pembangunan yang telah dilakukan Pemerintah Kota selama ini,” pungkas Luhur.
Dalam audiensi tersebut turut hadir Ketua ICMI Orwil Sulsel Prof. Arismunandar, M.Pd., Ketua CIDES ICMI Orwil Sulsel Dr. Adi Suryadi Culla, Ketua Dewan Pakar CIDES ICMI Orwil Sulsel Prof. Dr. Abd. Hamid Paddu, serta Wakil Ketua ICMI Sulsel Dr. Ir. Tahir Burhan.