DPRD Kota Makassar
PEMKOT MAKASSAR

Krisis Kehendak di Era Semiotika Otonom: Melihat Masa Depan di Jari Anak 6 Tahun

Krisis Kehendak di Era Semiotika Otonom: Melihat Masa Depan di Jari Anak 6 Tahun

Faisal Hamdan, Jurnalis dan peneliti independen--Dokumentasi pribadi

Oleh: Faisal Hamdan, Journalist/Independent Researcher

Seorang anak berusia enam tahun duduk di ruang tamu rumahnya. Matanya menatap lekat ke layar, jemarinya yang lincah menyentuh ikon-ikon berwarna cerah. Dari kejauhan saya mengenali aplikasi itu, Play Store.

Saya bertanya kepada ayahnya, “Anakmu sudah bisa membaca?”

“Belum,” jawabnya singkat.

Pandangan saya kembali ke anak itu. Ia membuka Play Store tanpa membaca, tanpa bertanya, tanpa ragu. Rasa penasaran mendorong saya untuk bertanya langsung.

“Apa yang sedang kamu download?”

“Game,” katanya pendek.

“Darimana kamu tahu game itu?”

Ia tersenyum malu. “Nda tau. Lihat-lihatji (hanya melihat). Baru (saya nonton) kunonton, baru ku download di tempat download (play store).”

Anak itu tidak tahu apa yang sedang ia pilih, ia hanya tahu satu hal, permainan itu menyenangkan. Jangan berharap ada proses berpikir panjang, apalagi niat yang dirumuskan sebelum menekan tombol unduh. Permainan itu muncul, lalu ia mengikutinya.

Ia belum bisa membaca, ia tidak memahami konsep unduhan, rekomendasi, atau peringkat. Namun permainan itu terpasang di gawainya, dimainkan berulang, dan perlahan menjadi bagian dari kesehariannya.

Di titik inilah sesuatu yang penting terjadi, sesuatu yang sering luput dari perhatian kita. Pilihan sudah terjadi sebelum kehendak terbentuk.

Dalam wawancara dengan beberapa anak usia TK hingga SD, pola yang sama muncul berulang. Seorang anak memilih game karena muncul di posisi paling atas. Anak lain mengenal mainan, makanan, bahkan gerakan joget karena melihatnya di YouTube. Mereka tidak mencari, mereka menemukan. Atau lebih tepatnya, mereka ditemukan oleh tanda.

Seorang anak berkata, “Kalau tidak muncul paling atas, saya cari yang lain.”

Sumber: observasi perilaku digital pada anak usia dini