Antara Ruang Kelas dan Ruang Kepala Sekolah: Sebuah Kerinduan akan Kepastian
--
Ibu dan Bapak pemangku kebijakan yang kami muliakan.
Dunia pendidikan kita sering kali dilihat dari angka-angka capaian dan tumpukan laporan administrasi. Namun, bagi kami yang setiap hari berdiri di garis depan, pendidikan adalah soal kehadiran penuh. Ia adalah tentang tatap mata seorang guru kepada muridnya, dan tentang langkah kaki seorang pemimpin yang memastikan setiap denyut sekolahnya bernapas dengan baik.
Saat ini, di balik status Pelaksana Tugas (Plt.) yang diemban oleh banyak rekan guru, tersimpan sebuah dilema kemanusiaan yang sunyi. Seorang Plt. yang juga masih mengajar aktif di sekolah induk bukanlah sekadar "pembagian tugas", melainkan sebuah "pembelahan jiwa" yang mungkin melampaui batas kemampuan manusiawi.
Kepemimpinan Bukan Sekadar Instruksi Jarak Jauh
Seorang Kepala Sekolah sejatinya adalah detak jantung sekolah. Perannya jauh melampaui tanda tangan dokumen atau sekadar instruksi dari balik meja. Ia harus hadir secara nyata dalam setiap aktivitas sekolah demi memastikan kualitasnya tetap terjaga:
Ia harus ada di gerbang pagi hari untuk menyambut siswa sekaligus memastikan disiplin guru tegak melalui teladan nyata, bukan sekadar kata-kata.
Ia harus hadir dalam pembiasaan ibadah dan berbagai aktivitas positif lainnya sebagai fondasi pembangunan karakter siswa.
Ia harus memantau langsung dinamika intrakurikuler, kokurikuler, hingga kegiatan ekstrakurikuler agar berjalan sesuai standar.
Ia harus melakukan coaching dan mentoring kepada rekan sejawat demi peningkatan kualitas pembelajaran yang berkelanjutan.
Pertanyaannya: Bagaimana semua itu bisa dilakukan jika raga sang pemimpin harus berada di ruang kelas sekolah lain untuk memastikan murid-muridnya juga aman, nyaman, dan bahagia dalam belajar? Kepemimpinan tidak bisa dilakukan dengan "remote control". Sekolah butuh sosok nakhoda yang hadir secara utuh, bukan pemimpin yang hanya singgah dengan sisa-sisa energi.
Harga yang Harus Dibayar oleh Murid Kita
Ibu dan Bapak yang bijaksana, ada harga yang harus dibayar dari ketidakpastian status ini, dan sayangnya, yang membayar adalah anak didik kita.
Jika kami memaksimalkan peran sebagai Plt. Kepala Sekolah, maka murid-murid di kelas kami kehilangan haknya untuk mendapatkan pengajaran yang penuh antusiasme. Sebaliknya, jika kami fokus di kelas, maka manajemen sekolah yang kami pimpin akan berjalan tanpa arah dan pengawasan yang mendalam.
Kita harus jujur pada nurani: *Kita bukan Superman.* Tenaga, pikiran, dan waktu kita memiliki batas. Pendidikan yang berkualitas mustahil dibangun di atas fondasi "sisa-sisa tenaga" atau perhatian yang terpecah. Amanah yang terbagi di dua institusi berbeda ini pada akhirnya menyulitkan kami untuk memberikan pengabdian yang paripurna. Kondisi ini secara tidak langsung membuat anak didik kita kehilangan kesempatan untuk mendapatkan sentuhan pendidikan yang fokus dan maksimal.
Sebuah Harapan untuk Kepastian
Tulisan ini bukan sekadar keluhan, melainkan sebuah ikhtiar untuk menjaga marwah pendidikan. Kami sangat menghargai kepercayaan yang diberikan, namun status "sementara" yang berlarut-larut secara perlahan akan mengikis kualitas sekolah.
Guru membutuhkan ketenangan untuk kembali fokus ke akar pengabdiannya: mengajar di kelas. Sekolah membutuhkan nakhoda definitif untuk berlayar penuh: berinovasi tanpa ragu.
Sumber:

