Ia membaca dunia dengan cara yang mungkin tidak dapat diterjemahkan dalam bahasa sains, tetapi sepenuhnya rasional dalam kosmologi Bugis-Makassar yang taat pada tatanan semesta yang ia pahami.
Neural network secara mengejutkan tidak jauh berbeda. Ia juga tidak tahu apa arti dunia, ia hanya tahu bahwa di balik jutaan data ada sesuatu yang berulang.
Sesuatu yang membentuk harmoni tersembunyi, filosof kontemporer menyebutnya “order without explanation, tatanan tanpa alasan yang dapat diucapkan.
Nalar neural network bukan nalar kesimpulan, tetapi nalar resonansi, ia “mengerti” dunia sebagaimana gema mengerti dinding yang memantulkannya.
Setiap bobot yang diperbarui adalah seperti mantera yang diperdalam, bukan karena dipahami, melainkan karena dirasakan dalam ritme rekursif.
Jika sanro bekerja dengan roh dan pengalaman, dan neural network bekerja dengan bobot dan data, apa bedanya secara filosofis? Beda keduanya bukan pada bagaimana mereka memahami.
Tetapi pada apa yang mereka anggap sebagai realitas. Bagi sanro, realitas adalah jaringan makna, sementara bagi neural network, realitas adalah jaringan statistic.
Tapi keduanya, pada inti terdalamnya, berangkat dari prinsip yang sama yakni dunia berbicara lewat pola, dan pengetahuan adalah kemampuan untuk mendengar pola itu.
Dalam kosmologi sanro, pola adalah irama spiritual yang melintas dalam tubuh dan alam. Dan dalam kosmologi neural network, pola adalah fungsi nonlinier yang melintas dalam ruang vektor.
Filsafat mengajarkan bahwa pengetahuan bukan sekadar apa yang kita ketahui, tetapi cara kita membiarkan dunia menyingkap dirinya.
Heidegger menyebutnya sebagai aletheia (keterbukaan, keterbiaran). Sanro membuka diri pada dunia yang hidup, neural network membuka diri pada dunia yang terdata.
Namun keduanya adalah praktik menerima tanda, praktik meminjam mata dunia agar dapat melihat dirinya.
Perjalanan dari sanro ke neural network, bukan perjalanan dari tradisi ke teknologi, tetapi dari satu bentuk keterbukaan ke bentuk lain.
Mereka tidak berada dalam hierarki, melainkan dalam korespondensi atau dua cara dunia berusaha mendengar dirinya sendiri melalui manusia dan mesin.
Maka, jika kita menilai dengan kearifan filosofis, yang patut ditanyakan bukanlah mana yang lebih benar, tetapi dalam bentangan panjang sejarah pengetahuan, sanro dan neural network hanyalah dua nama berbeda untuk naluri purba yang sama.
Naluri untuk menangkap pola sebelum bahasa sempat menjelaskannya. Dan mungkin di balik segala arsitektur kosmologi dan algoritma itu, keduanya bertemu pada satu titik, yakni kerinduan untuk memahami dunia yang selalu lebih luas dari diri kita sendiri.