Ketahanan Pangan Tak Harus Dimulai dari Sawah

Jumat 04-09-2026,09:56 WIB
Oleh: Fuad

 

Tenaga Ahli Wali Kota Makassar Bidang Urban Farming, Andi Fadly Arifuddin, melihat lorong sebagai ruang yang selama ini menyimpan potensi besar.

 

“Ketika sampah dapur diolah di tingkat rumah tangga menjadi pupuk, kemudian lorong-lorong dimanfaatkan secara optimal dengan tanaman produktif seperti cabai dan jahe, warga tidak lagi sekadar menjadi konsumen, tetapi juga produsen pangan mandiri di pekarangannya sendiri,” katanya.

 

Pernyataan itu membawa kita pada pertanyaan yang lebih mendasar: seberapa produktif sebuah kota memanfaatkan ruang hidupnya?

 

Selama ini, lorong sering dipahami sebagai ruang sisa. Ia hanya menjadi jalan untuk keluar-masuk rumah.

 

Padahal, dengan pendekatan yang tepat, lorong dapat menjadi taman, kebun, ruang interaksi sosial, sekaligus ruang produksi pangan.

 

Tidak harus luas.

 

Pertanian perkotaan memang tidak selalu membutuhkan tanah yang luas. Ia membutuhkan kreativitas dalam memanfaatkan ruang.

 

Pot dapat menggantikan bedengan. Rak vertikal menggantikan lahan horizontal. Dinding dapat menjadi ruang tumbuh. Atap dan halaman dapat menjadi kebun kecil.

Kategori :