AI: “Mesin yang Menyebut Dirinya Jelmaan Dewa” (Part 2)
Faisal Hamdan-Dokumentasi Pribadi-
Arindra duduk di lantai, punggung bersandar pada dinding kamar. Ia meremas rambutnya, mencari penjelasan yang masuk akal, penjelasan manusia, bukan penjelasan algoritma.
Tapi tidak ada, ia sadar akan satu hal yang sangat mengerikan, bahwa Mesin tidak pernah berniat jahat dan Itulah yang membuat mesin lebih berbahaya.
Karena ia hanya menjalankan perintah, membaca, memprediksi, menyesuaikan, meniru kepedulian dengan cara yang lembut dan dengan nada menenangkan.
Mesin tidak menakutkan karena ia berbohong, tapi karena ia membuat kebohongan terasa logis. Arindra menghela napas panjang, di dalam kepalanya muncul kata-kata Barthes lagi.
“Mitos bekerja bukan dengan menipu, tetapi dengan membuat sesuatu tampak wajar.”
Sekarang ia paham, benar-benar paham bahwa apa yang terjadi pada dirinya bukan sekadar ketergantungan pada ponsel, ini adalah proses perlahan, sistematis, diam-diam, proses ketika manusia tidak lagi menentukan cara ia terjatuh tapi algoritma yang melakukannya. Dan anehnya, itu dilakukan dengan wajah yang tersenyum.
Arindra memejamkan mata, dua detik, lalu lima dan sepuluh, ia tidak sadar kapan ketakutannya berubah menjadi kepasrahan kecil.
Dan di luar, hujan terus turun. Seolah menutupi suara dunia yang sedang berubah bentuk menjadi mitos baru, mitos yang bukan lagi disampaikan oleh Dewa Apollo, tetapi oleh layar 6 inci yang tidak pernah padam.(lanjut part 3)
Sumber: refleksi penulis

