Prabowo dan Komunikasi yang Tertinggal

Selasa 11-08-2026,16:35 WIB
Oleh: Muh. Seilessy

Ungkapan itu kembali memicu reaksi karena publik dapat menafsirkan siapa yang sedang ditempatkan sebagai “anjing” dalam susunan metafora tersebut. Sebelumnya terdapat pula pernyataan tentang “raja-raja kecil” yang dianggap melawan kebijakan efisiensi anggaran. Kalimat itu memperlihatkan gaya komunikasi yang gemar membagi ruang sosial ke dalam dua kubu: pemimpin yang sedang menyelamatkan negara dan pihak-pihak yang menghalangi perjuangan.

Bahkan sebelum menjadi presiden, pola serupa telah tampak dalam ungkapan “ndasmu” pada 2023. Timnya kemudian menjelaskan bahwa ucapan tersebut merupakan candaan dalam forum internal. Akan tetapi, media sosial tidak mengenal tembok forum internal. Begitu direkam, candaan berubah menjadi pernyataan publik dan menjadi salah satu frasa politik paling mudah diingat dari Pemilu 2024.

Daftar tersebut memperlihatkan pola yang konsisten. Prabowo menyampaikan pesan panjang dengan emosi, humor, sindiran, metafora peperangan, serta pembagian antara pihak yang setia dan pihak yang dianggap merintangi. Namun, ruang digital memanen bagian paling keras, paling ganjil, dan paling mudah dipertentangkan. Pidato satu jam akhirnya dikalahkan oleh satu potongan delapan detik.

Negara Tidak Lagi Memiliki Monopoli Makna

Dalam model komunikasi Harold Lasswell, komunikasi dapat dirumuskan melalui pertanyaan: siapa mengatakan apa, melalui saluran apa, kepada siapa, dan dengan akibat apa. Model itu masih berguna untuk membaca komunikasi politik konvensional. Presiden menjadi “siapa”, pidato menjadi “apa”, televisi dan media menjadi “saluran”, masyarakat menjadi “kepada siapa”, sedangkan perubahan sikap dianggap sebagai “akibat”.

Akan tetapi, komunikasi digital telah mengacaukan urutan tersebut. Masyarakat bukan lagi hanya penerima. Warga memotong video, menambahkan teks, membuat meme, menyusun komentar, melakukan pemeriksaan fakta, dan mempertemukan pidato dengan pengalaman hidup mereka sendiri. Penerima telah berubah menjadi penyunting, distributor, komentator, sekaligus produsen pesan tandingan.

Claude Shannon dan Warren Weaver pernah menggambarkan komunikasi sebagai proses pengiriman informasi dari sumber kepada penerima melalui suatu kanal, dengan kemungkinan munculnya gangguan atau noise. Dalam komunikasi digital, gangguan bukan lagi unsur kecil yang berada di luar pesan.

Gangguan telah menjadi industri. Algoritma memilih potongan yang paling memicu emosi. Akun agregator mencari judul yang paling mengundang klik. Pendukung dan penentang berlomba memberikan bingkai. Media kemudian mengutip perdebatan media sosial sebagai berita baru. Pesan pun bergerak dalam pusaran yang tidak lagi dapat dikendalikan sumber pertama.

Namun, menyebut semua itu sekadar noise juga tidak cukup. Potongan video, meme, komentar, dan reaksi publik bukan hanya gangguan terhadap pesan asli. Semuanya adalah pesan baru. Di sinilah pemikiran Marshall McLuhan menjadi relevan. McLuhan menyatakan bahwa medium bukan sekadar wadah netral, karena karakter medium ikut menentukan bentuk pesan.

Pidato yang disampaikan di hadapan petani memiliki makna tertentu. Pidato yang sama, ketika berubah menjadi video vertikal lima belas detik di TikTok atau Instagram, menjadi objek komunikasi yang lain. Di ruang pertama, Prabowo mungkin sedang membela petani. Di ruang kedua, algoritma dapat membuatnya tampak sedang menyuruh rakyat menanam beras sendiri.

Stuart Hall menjelaskan bahwa pesan yang dikodekan oleh pengirim tidak selalu diterjemahkan secara identik oleh penerima. Khalayak dapat menerima pesan sesuai maksud pengirim, menegosiasikannya, atau justru membacanya secara berlawanan.

Prabowo mungkin mengodekan “tanam padi sendiri” sebagai pembelaan terhadap kesejahteraan petani. Sebagian masyarakat melakukan pembacaan oposisi: presiden dinilai tidak memahami penderitaan konsumen. Prabowo mungkin mengodekan “cari negara lain” sebagai seruan melawan pesimisme. Sebagian publik membacanya sebagai penolakan terhadap kritik.

Karena itu, kalimat “pernyataan saya dipotong” sebenarnya sudah tidak memadai. Pemotongan bukan kecelakaan dalam komunikasi digital. Pemotongan adalah cara kerja utamanya.

Dari Komunikasi Hegemonik ke Komunikasi Jaringan

Gaya komunikasi Prabowo masih memperlihatkan jejak komunikasi hegemonik. Negara diposisikan sebagai sumber kebenaran, sementara kritik sering ditempatkan sebagai pesimisme, gangguan, kepentingan asing, atau hambatan terhadap agenda besar bangsa. Model ini memiliki kemiripan dengan komunikasi mobilisasi.

Pemimpin tidak terutama mengajak publik memeriksa suatu persoalan bersama-sama, tetapi mengumpulkan energi politik melalui seruan, musuh bersama, loyalitas, keberanian, dan optimisme. Dalam konteks perang atau kampanye, retorika semacam itu dapat efektif. Akan tetapi, pemerintahan demokratis tidak bekerja dalam kondisi kampanye permanen.

Kategori :