Prabowo dan Komunikasi yang Tertinggal

Selasa 11-08-2026,16:35 WIB
Oleh: Muh. Seilessy

Pada Juli 2026, misalnya, pelemahan rupiah dan pasar saham diberitakan berkaitan dengan kekhawatiran mengenai independensi Bank Indonesia, kebijakan fiskal, pergantian kepemimpinan ekonomi, serta agenda pertumbuhan pemerintah. Itu menunjukkan bahwa keguncangan ekonomi tidak dapat dibebankan kepada satu pidato.

Akan tetapi, dalam situasi ketika kepercayaan pasar sedang rapuh, komunikasi yang agresif dan ambigu dapat menjadi bensin yang dituangkan di sekitar percikan api. Dampak paling nyata mungkin tidak langsung tampak pada grafik rupiah.

Ia bekerja lebih dahulu pada ekonomi kepercayaan: apakah pemerintah dapat diprediksi, apakah kritik akan didengar, apakah data akan dihormati, dan apakah pernyataan pejabat harus selalu diterjemahkan kembali oleh bawahannya. Negara modern tidak hanya memiliki cadangan devisa. Ia juga memiliki cadangan kepercayaan. Keduanya dapat menyusut.

Presiden Perlu Berpindah Kendaraan

Kritik terhadap gaya komunikasi Prabowo bukan berarti presiden harus kehilangan ketegasan, spontanitas, atau watak personalnya. Publik juga tidak membutuhkan presiden yang berbicara seperti teks otomatis yang telah disterilkan dari seluruh emosi. Namun, ketegasan berbeda dari stigmatisasi. Optimisme berbeda dari penolakan terhadap kecemasan.

Humor berbeda dari kalimat yang mengalihkan perhatian publik dari substansi kebijakan. Presiden perlu menyadari bahwa ia tidak lagi hanya berbicara kepada orang-orang yang duduk di depan panggung. Ia berbicara kepada kamera, algoritma, pasar, kelompok masyarakat sipil, media asing, investor, mahasiswa, petani, pekerja, dan jutaan orang yang hanya akan menonton tujuh detik dari pidatonya.

Karena itu, setiap kalimat presiden harus dirancang untuk tetap bertahan setelah konteksnya dicabut. Komunikasi negara hari ini tidak cukup hanya benar berdasarkan niat. Ia harus tahan terhadap pemotongan, mampu menjelaskan data, menyediakan konteks, membuka dialog, dan menghindari metafora yang mudah berubah menjadi stempel terhadap kelompok tertentu.

Prabowo mungkin memiliki energi retorik seorang panglima. Namun, masyarakat digital bukan pasukan yang menunggu komando. Masyarakat digital adalah jaringan yang terus berbicara, memotong, menafsirkan, menolak, mendaur ulang, dan memproduksi realitasnya sendiri.

Selama Prabowo masih menggunakan model komunikasi lama, setiap pidato akan selalu menghadapi risiko yang sama: presiden mengucapkan satu hal, tetapi algoritma membawa negara membicarakan hal yang lain.

Pada akhirnya, masalah komunikasi Prabowo bukan karena suaranya kurang keras. Masalahnya adalah ia masih mengira pengeras suara dapat menguasai zaman ketika setiap orang telah memiliki mikrofon, setiap telepon genggam telah menjadi ruang redaksi, dan setiap tanda dapat berjalan tanpa meminta izin kepada penciptanya.(**)

Kategori :